Minggu, 17 Februari 2019

Membangun Peradaban Mulai dari Dalam Rumah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tak terasa sudah pekan ketiga nih belajar di IIP.

Memiliki keluarga di usia 27tahun merupakan suatu anugerah yang Allah berikan. Meskipun ini meleset dari cita-cita yang ingin memiliki keluarga di usia 25tahun. Namun karena kehendak dan takdir Tuhan saya terima dan syukuri apa yang sudah menjadi garis takdir saya.

Ya, memiliki keluarga, berumah tangga, memiliki suami, dan anak, merupakan keinginan setiap insan. Sebab ini juga sudah takdir allah yang termaktub dalam Alquran. Bahwa manusia itu diciptakan berpasang - pasangan. Dan mendapat tauladan dari nabi Muhammad untuk menikah apabila sudah mampu. Mampu secara lahir dan batin.

Alhamdulillah, sunnah nabi sudah saya laksanakan 15 bulan yang lalu. Saya bersedia tulus ikhlas untuk menua bersama dengan lelaki pilihan saya. Mas Indra Mustofa. Lelaki lembut dan tulus mencintai saya. Ia yang juga bersedia menggenapi hidup saya yang sebelumnya ganjil.

Pas banget ini dengan bahasan materi ketiga dikelas IIP. Membangun Peradaban dari Dalam Rumah. Seperti biasa tiap minggu saya mendapat tugas. NHW kali ini sangat menarik namun juga menguras pikiran.

Berikut adala tugas lengkap dari NHW ketiga saya :

Nikah*
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.


a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

🌟 Hmmmm saya sudah mengirim surat cinta pada suami saya. Saya mengutarakan isi hati, flashback saat awal - awal mengenal suami. Menulis yang lumayan menguras emosi, lama sekali saya menulis surat cinta itu, berhati - hati dalam menuliskannya sembari mengingat - ingat hal apa saya yang sudah saya lakukan bersama dengan suami. Sebelum dan sesudah menikah. Mengingat waktu penjajakan kita hampir 7tahun. Tidak tanggung - tanggung saya menuliskannya dalam, sebuah kertas, panjang sekali curhatan saya. Menghasilkan 13 lembar kertas buku tulis. Dan saya selesaikan dalam waktu yang cukup lama pula untuk ukuran sebuah surat.
Dua hari dua malam rek. “Haha temenan iki gawene sui polll. Dihari kedua menulis pun saya kerjakan tidak biasa sebagaimana saya menulis biasanya. Jungkir balik, gluntang glunting diatas kasur. Eh turun, eh naik lagi. Gulang guling ngalor ngetan ngidul ngulon. Hahahha# aaaaaaa butuh kejernihan pikiran dan hati untuk menuliskannya.

Surat saya kirim. Butuh kesabaran untuk menerima respon surat tersebut. Suami saya lama kali membacanya. Dan taraaaaaaaaa. Saat waktunya tepat. Dua menitan menjelang adzan magrib. Akhirnya tanpa saya ketahui suami membaca surat dengan muka tegang, muram, tapi dikit - dikit ketawa namun tegang lagi. Saya pun deg deg syeeer. Takut suratnya menyakitkan hati suami. Eh tapi kok malah banyak ketawanya. Mungkin dia terkenang kejadian - kejadian culun yang sudah kamu lakukan.

Saya yang sedang tiduran disampingnya terus terusan menyelidiki gerak geriknya. Sambil menahan rasa takut.

Akhirnya, hatam juga 13 lembar curhatan saya. Curhatan yang terbungkus surat cinta terbaca juga oleh suami. Saya deg2 an lagi. Tapi penasaran juga dengan respon suami setelah membaca surat dari saya.

Daaaaaaaaaaaaaaaaaan. Tanpa kata, tanpa apa, suami lalu meraih saya, memeluk saya, lalu diam  - diam menciumi saya pelan - pelan tanpa henti, sembari tangan kanannya mengelus rambut dan kepala saya. Hihihi gemas deh saya 😍

Aku gemes dongs, mas, respon nya gimana setelah membaca surat ini? Mas, gimana? Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut manisnya. Yang ada mas suami memeluk saya kencang. Hehe

Aku tau, meskipun tidak diungkapkan saya bisa menangkap dan membaca batinnya. Ia begitu menyayangi dan mengasihi saya. Sudah pasti ia sangat mencintai saya.

Sudah barang tentu jika suami saya itu tidak romantis, tidak suka banyak bicara, tapi langsung ke perbuatan nyata. Seperti yang sudah dilakukan kepada saya kali ini. Lalu saya balas dengan semakin erat memeluknya.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

🌟Sebab saya belum memiliki anak point ini saya skip dulu. Semoga setelah ini saya mendapat hadiah dari Tuhan agar segera mimiliki keturunan. Amiiin.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

🌟 Potensi diri yang saya miliki?

Rasanya susah sekali jika harus mendefinisikan diri saya. Apakah itu artinya saya tidak mengenali diri saya sendiri? Terlepas dari itu, saya akan menuliskan walau sedikit.

Potensi dalam diri? Apa ya. Masih susah saya mengungkapkan. Saya adalah perempuan yang pemberani, rame dan mudah bersosial. Mungkin itu jika ada yang menanyakan 3 hal terhadap diri saya.

Saya memang memiliki pribadi yang mudah bergaul dengan siapa saja. Saya tidak segan untuk berkenalan terlebih dahulu pada orang yang baru saya temui. Cenderung pemberani. Kalau kata suami saya, “nok kamu itu kendel tur ora isinan. Nek kita punya bisnis uda pasti kita jadi partner yang cocok, aku yang mikir konsep jalannya bisnis, dan kamu yang menjalankan dan terjun langsung”. Hahaha. secara suami saya itu orangnya pemalu. Begitu suami saya sering berucap. Yang dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih seperti ini “nok,kamu tu memiliki jiwa pemberani dan tidak takut malu”. Hehe. Saya memang tak pernah malu terhadap apa yang saya lakukan. Apa adanya, seadanya. Tidak drama dan dibuat - buat. Itu mungkin point yang suami dapat dari saya.

Sayapun menyadari hal demikian. Mungkin itu juga jalan takdir Tuhan yang menemukan saya dengan suami agar kami bisa saling menggenapi. Saling menguatkan dan saling tahu perbedaan masing - masing. Sehingga kami belajar untuk saling menerima.

Alhamdulillah, suami saya mau menerima kekurangan dan kelebihan saya, dan dia mau memahaminya. Bersyukur pada Tuhan atasnya untuk saya.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

🌟 Kebetulan selama ini saya tinggal bersama orang tua saya , masih serumah. Suami tinggal disini sebab orang tua yang meminta kami tetap tinggal bersama orang tua. Alhamdulillah bapak dan ibu saya baik. Bersama suami pun kami juga menjalankan kehidupan sesuai dengan keinginan orang tua.

Tantangan yang mungkin kami alami adalah merasa sungkan, merasa pakewuh terhadap orang tua. Karena disana kami hanya menumpang saja.

Nah karena kami juga manusia biasa, di usia pernikahan kami yang baru seumur jagung ini, kami ingin belajar hidup mandiri. Belajar membangun rumah tangga. Menata hidup kami berdua. Tanpa campur tangan orang lain. Dan kami ingin tahu sejauh mana kamu bisa bertahan tanpa bantuan orang tua.

Akhirnya kami putuskan untuk pindah rumah (kontrakan). Hehe. Belum rumah sendiri. Tapi semoga habis ini bisa kami wujudkan. Dan semoga kami mendapat keberkahan dan mendapatkan keturunan. Amiiin.

Alhamdulillah juga, minggu ini saya berencana mulai pindahan. Disela - sela pindahan ini tak membuat saya surut semangat untuk belajar di IIP. Semoga bisa terus istiqomah.

Dan mungkin ini juga memang sudah suratan Tuhan kalau saya dan suami harus ngontrak rumah. Ini semata agar kami belajar. Belajar hidup mandiri, belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya hidup, pun belajar untuk saling menerima dan mensyukuri satu sama lain. Sebab memang sifat kami ini berbeda. Tapi beda bukan untuk perpecahan. Tapi untuk saling menguatkan.

Demikianlah tugas nhw saya pekan ketiga ini. Menunggu ilmu - ilmu yang menarik lagi

Salam hangat

ESTY CAHYANINGSIH

#nhw3
#membangun peradaban dari dalam rumah
#IIPB7
#iipsalatigajepara
#yakin lulus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar