Rabu, 27 Februari 2019

Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sudah pekan keempat saya belajar di kelas matrikulasi. Itu artinya sudah sabulan saya belajar ilmu - ilmu baru yang sungguh menarik dari Institusi Ibu Profesional. Semakin kesini tentu saja masih diliputi dengan tugas - tugas yang semakin menantang buat saya. Pekan ini saya hampir merasa gagal, sebab saya tidak fokus untuk belajar materi tentang mendidik dengan kekuatan fitrah.

Saya tak pernah begini sebelumnya. Materi yang diberikan lama sekali saya selesaikan. Saya gagal memahami saat pertama kali membaca materinya. Akhirnya saya ulang lagi hingga setidaknya saya paham. Meskipun hanya sedikit yang saya terima.

Agaknya perihal persiapan kepindahan (rumah) kontrakan yang belum usai membuat saya lama menyelesaikan tugas pekan ini.

Akhirnya, benar - benar di menit terakhir saya baru mulai mengerjakan tugas istimewa ini.

Mungkin disini kali tantangannya saat mengikuti IIP, saya harus benar - benar bisa memanage waktu sebaik mungkin agar tidak kelimpungan saat menuju deadline.

Sebenarnya bisa saja saya tidak merasa terbebani oleh tugas ini. Jika, saya memang konsisten dan berkomitmen untuk menyelesaikan dan lulus pada waktunya. Saat materi di berikan, segeralah kita pelajari. Lalu setelah tugas NHW diluncurkan lekas - lekaslah kerjakan. Sudah deh, tinggal duduk manis kipas - kipas, malam hari bisa tidur tenang tanpa bayang - bayang dan mimpi buruk NHW. Hahaha

Baiklah, cukup ya curhatnya. Saatnya NHW NHW NHW ๐Ÿ˜

yang udah menanti2 NHW#4,. ini dia,. ๐Ÿ‘

NICE HOMEWORK #4
MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FIITRAH

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

๐ŸŒŸ Ngomongin soal NHW1. Hmmm menarik sekali. Saat itu saya masih semangat - semangatnya rajin mengerjakan tugas. Tentu saja masih sangat membekas di ingatan. Jadi kalau diminta mengulas lagi tentu saya masih ingat dongs tanpa membuka lembaran lama.
****************************************************
Tentu saja masih tetep, saya masih mantap untuk mempelajari ilmu management hati. Pun setelah merenung dan sempat kepentok masalah yang membuat saya hampir tepuruk. Akhirnya saya berniat untuk menambah disiplin ilmu “nrimo ing pandum” sebab dari sini saya sadar jika dalam suatu masalah, pasti itu semua dari Tuhan, dan Tuhan pasti memberikan solusi dari masalah tersebut. Tak boleh putus aja. Jalani hidup apa adanya. Menerima takdirnya. Jangan mudah merasa besar. Sebab kebesaran hanya milik Tuhan.
Selain itu kehidupan sehari - hari saya lebih banyak belajar bersama anak - anak, saya menikmatinya hingga akhirnya tertarik untuk memehami mereka. Hingga sayapun ingin mempelajari ilmu parenting lebih dalam lagi.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

๐ŸŒŸUntuk NHW2, alhamdulillah sudah saya cetak dan saya tempelkan di dinding kamar. Sekiranya saya ingat setiap hari. Dan alhamdulillah saya sudah mulai menjalaninya dengan teratur. Semoga kedepannya bisa istiqomah.


c.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Contoh :
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator


๐ŸŒŸMengingat tugas nhw3 yang baru sepekan berlalu, agaknya membuat saya makin yakin dengan maksud Tuhan menciptakan saya dimuka bumi ini adalah untuk selalu bersyukur, menerima kehendak Tuhan dan menjalaninya. Dengan dibimbing oleh imam saleh saya yang super sabar, saya yakin saya bisa mengatur emosi saya. Pun saya akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga serta bisa bermanfaat untuk sesama terutama untuk tumbuh dan kembang anak - anak usia dini.

Misi    : Menjadi ibu profesional yang pandai bersyukur dan bermanfaat bagi sesama.

Bidang: Ilmu management hati, syukur dan ilmu parenting.

Peran : Ibu Profesional yang dijadikan tempat yang dirindukan keluarga. Pun menjadi motivator dan inovator bagi perkembangan dunia anak usia dini.


d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

๐ŸŒŸUntuk menjadi ibu profesional yang pandai bersyukur dan bersabar khususnya bagi anak - anak tentu saja masih banyak ilmu yang harus saya pelajari. Mengingat terlalu dangkalnya pengetahuan saya akan hal tersebut. Maka saya harus semangat belajar.

Lalu ilmu apa saya yang harus saya pelajari lalu kuasai?
✔️ Ilmu Management hati : bersyukur, menerima takdir dan menjalani takdir

✔️Ilmu ibu profesional : bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, dan bunda saleha. Tentu saya ini ada jenjang waktunya ya, berikut saya saya coba saya kerjakan sedikit.

✔️ Ilmu Parenting : membaca, menulis, melakukan penelitian, mengikuti seminar online maupun offline tentang dunia ibu dan anak.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha
๐ŸŒŸ KM 0 - KM 1 : (Pada Usia 28 tahun) Menguasai Ilmu Management hati (sabar), menguasai ilmu bunda sayang.

KM1- KM2 : (Pada usia 29 tahun) Menguasai ilmu management hati (syukur) dan menguasai ilmu bunda cekatan.

KM2 - KM3 : (Pada usia 30 tahun) menguasai ilmu management hati (nerima ing pandum) dan menguasai ilmu bunda Produktif.

KM3 - KM4 : (Pada usia 31 tahun) menguasai ilmu bunda shalihah dan ilmu parenting.


f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
๐ŸŒŸChecklist yang menunjang keberhasilan saya, sudah saya jalankan. Seperti halnya di ilmu management hati : saya cantumkan mengaji rutin dan mendatangi kajian. Yang insyaallah di setiap saya datang di kajian ilmu saya bisa mengupgrade diri terutama tentang disiplin ilmu menata hati.

Untuk ilmu ibu profesional : Alhamdulillah, bersyukur sekali saya kecemplung didalam komunitas yang super keren ini. IIP. Disni saya belajar banyak hal yang sebelumnya belum pernah saya pelajari, bertemu dengan teman - teman kece dari berbagai latar belakang serta bisa berinteraksi langsung dengan fasilitator - fasilitator hebat. Semoga saya berhasil lulus dan bisa melenggang mengikuti kelas lanjutan.

Untuk Ilmu Parenting : Saya juga menaruh point membaca dan menulis. Mungkin nantinya akan saya bikin lebih spesifik lagi. Untuk belajar tentang ilmu parenting. Membaca buku - buku parenting dan akan concern menulis tentang ibu dan anak.


g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini.
Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.
Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.
๐ŸŒŸBerbekal ilmu - ilmu dari IIP saya akan berusaha menjadi ibu profesional yang baik, yang belajar mengedepankan adab dulu baru ilmu,menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga yang membangun peradaban dari dalam rumah serta mendidik anak sesuai dengan fitrahnya sehingga mampu menjadi ibu yang bahagia dan diharapkan keluarga. Saya yakin saya bisa dengan ijin Allah.

Salam hangat

ESTY CAHYANINGSIH

Minggu, 17 Februari 2019

Membangun Peradaban Mulai dari Dalam Rumah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tak terasa sudah pekan ketiga nih belajar di IIP.

Memiliki keluarga di usia 27tahun merupakan suatu anugerah yang Allah berikan. Meskipun ini meleset dari cita-cita yang ingin memiliki keluarga di usia 25tahun. Namun karena kehendak dan takdir Tuhan saya terima dan syukuri apa yang sudah menjadi garis takdir saya.

Ya, memiliki keluarga, berumah tangga, memiliki suami, dan anak, merupakan keinginan setiap insan. Sebab ini juga sudah takdir allah yang termaktub dalam Alquran. Bahwa manusia itu diciptakan berpasang - pasangan. Dan mendapat tauladan dari nabi Muhammad untuk menikah apabila sudah mampu. Mampu secara lahir dan batin.

Alhamdulillah, sunnah nabi sudah saya laksanakan 15 bulan yang lalu. Saya bersedia tulus ikhlas untuk menua bersama dengan lelaki pilihan saya. Mas Indra Mustofa. Lelaki lembut dan tulus mencintai saya. Ia yang juga bersedia menggenapi hidup saya yang sebelumnya ganjil.

Pas banget ini dengan bahasan materi ketiga dikelas IIP. Membangun Peradaban dari Dalam Rumah. Seperti biasa tiap minggu saya mendapat tugas. NHW kali ini sangat menarik namun juga menguras pikiran.

Berikut adala tugas lengkap dari NHW ketiga saya :

Nikah*
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.


a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

๐ŸŒŸ Hmmmm saya sudah mengirim surat cinta pada suami saya. Saya mengutarakan isi hati, flashback saat awal - awal mengenal suami. Menulis yang lumayan menguras emosi, lama sekali saya menulis surat cinta itu, berhati - hati dalam menuliskannya sembari mengingat - ingat hal apa saya yang sudah saya lakukan bersama dengan suami. Sebelum dan sesudah menikah. Mengingat waktu penjajakan kita hampir 7tahun. Tidak tanggung - tanggung saya menuliskannya dalam, sebuah kertas, panjang sekali curhatan saya. Menghasilkan 13 lembar kertas buku tulis. Dan saya selesaikan dalam waktu yang cukup lama pula untuk ukuran sebuah surat.
Dua hari dua malam rek. “Haha temenan iki gawene sui polll. Dihari kedua menulis pun saya kerjakan tidak biasa sebagaimana saya menulis biasanya. Jungkir balik, gluntang glunting diatas kasur. Eh turun, eh naik lagi. Gulang guling ngalor ngetan ngidul ngulon. Hahahha# aaaaaaa butuh kejernihan pikiran dan hati untuk menuliskannya.

Surat saya kirim. Butuh kesabaran untuk menerima respon surat tersebut. Suami saya lama kali membacanya. Dan taraaaaaaaaa. Saat waktunya tepat. Dua menitan menjelang adzan magrib. Akhirnya tanpa saya ketahui suami membaca surat dengan muka tegang, muram, tapi dikit - dikit ketawa namun tegang lagi. Saya pun deg deg syeeer. Takut suratnya menyakitkan hati suami. Eh tapi kok malah banyak ketawanya. Mungkin dia terkenang kejadian - kejadian culun yang sudah kamu lakukan.

Saya yang sedang tiduran disampingnya terus terusan menyelidiki gerak geriknya. Sambil menahan rasa takut.

Akhirnya, hatam juga 13 lembar curhatan saya. Curhatan yang terbungkus surat cinta terbaca juga oleh suami. Saya deg2 an lagi. Tapi penasaran juga dengan respon suami setelah membaca surat dari saya.

Daaaaaaaaaaaaaaaaaan. Tanpa kata, tanpa apa, suami lalu meraih saya, memeluk saya, lalu diam  - diam menciumi saya pelan - pelan tanpa henti, sembari tangan kanannya mengelus rambut dan kepala saya. Hihihi gemas deh saya ๐Ÿ˜

Aku gemes dongs, mas, respon nya gimana setelah membaca surat ini? Mas, gimana? Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut manisnya. Yang ada mas suami memeluk saya kencang. Hehe

Aku tau, meskipun tidak diungkapkan saya bisa menangkap dan membaca batinnya. Ia begitu menyayangi dan mengasihi saya. Sudah pasti ia sangat mencintai saya.

Sudah barang tentu jika suami saya itu tidak romantis, tidak suka banyak bicara, tapi langsung ke perbuatan nyata. Seperti yang sudah dilakukan kepada saya kali ini. Lalu saya balas dengan semakin erat memeluknya.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

๐ŸŒŸSebab saya belum memiliki anak point ini saya skip dulu. Semoga setelah ini saya mendapat hadiah dari Tuhan agar segera mimiliki keturunan. Amiiin.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

๐ŸŒŸ Potensi diri yang saya miliki?

Rasanya susah sekali jika harus mendefinisikan diri saya. Apakah itu artinya saya tidak mengenali diri saya sendiri? Terlepas dari itu, saya akan menuliskan walau sedikit.

Potensi dalam diri? Apa ya. Masih susah saya mengungkapkan. Saya adalah perempuan yang pemberani, rame dan mudah bersosial. Mungkin itu jika ada yang menanyakan 3 hal terhadap diri saya.

Saya memang memiliki pribadi yang mudah bergaul dengan siapa saja. Saya tidak segan untuk berkenalan terlebih dahulu pada orang yang baru saya temui. Cenderung pemberani. Kalau kata suami saya, “nok kamu itu kendel tur ora isinan. Nek kita punya bisnis uda pasti kita jadi partner yang cocok, aku yang mikir konsep jalannya bisnis, dan kamu yang menjalankan dan terjun langsung”. Hahaha. secara suami saya itu orangnya pemalu. Begitu suami saya sering berucap. Yang dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih seperti ini “nok,kamu tu memiliki jiwa pemberani dan tidak takut malu”. Hehe. Saya memang tak pernah malu terhadap apa yang saya lakukan. Apa adanya, seadanya. Tidak drama dan dibuat - buat. Itu mungkin point yang suami dapat dari saya.

Sayapun menyadari hal demikian. Mungkin itu juga jalan takdir Tuhan yang menemukan saya dengan suami agar kami bisa saling menggenapi. Saling menguatkan dan saling tahu perbedaan masing - masing. Sehingga kami belajar untuk saling menerima.

Alhamdulillah, suami saya mau menerima kekurangan dan kelebihan saya, dan dia mau memahaminya. Bersyukur pada Tuhan atasnya untuk saya.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

๐ŸŒŸ Kebetulan selama ini saya tinggal bersama orang tua saya , masih serumah. Suami tinggal disini sebab orang tua yang meminta kami tetap tinggal bersama orang tua. Alhamdulillah bapak dan ibu saya baik. Bersama suami pun kami juga menjalankan kehidupan sesuai dengan keinginan orang tua.

Tantangan yang mungkin kami alami adalah merasa sungkan, merasa pakewuh terhadap orang tua. Karena disana kami hanya menumpang saja.

Nah karena kami juga manusia biasa, di usia pernikahan kami yang baru seumur jagung ini, kami ingin belajar hidup mandiri. Belajar membangun rumah tangga. Menata hidup kami berdua. Tanpa campur tangan orang lain. Dan kami ingin tahu sejauh mana kamu bisa bertahan tanpa bantuan orang tua.

Akhirnya kami putuskan untuk pindah rumah (kontrakan). Hehe. Belum rumah sendiri. Tapi semoga habis ini bisa kami wujudkan. Dan semoga kami mendapat keberkahan dan mendapatkan keturunan. Amiiin.

Alhamdulillah juga, minggu ini saya berencana mulai pindahan. Disela - sela pindahan ini tak membuat saya surut semangat untuk belajar di IIP. Semoga bisa terus istiqomah.

Dan mungkin ini juga memang sudah suratan Tuhan kalau saya dan suami harus ngontrak rumah. Ini semata agar kami belajar. Belajar hidup mandiri, belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya hidup, pun belajar untuk saling menerima dan mensyukuri satu sama lain. Sebab memang sifat kami ini berbeda. Tapi beda bukan untuk perpecahan. Tapi untuk saling menguatkan.

Demikianlah tugas nhw saya pekan ketiga ini. Menunggu ilmu - ilmu yang menarik lagi

Salam hangat

ESTY CAHYANINGSIH

#nhw3
#membangun peradaban dari dalam rumah
#IIPB7
#iipsalatigajepara
#yakin lulus

Kamis, 14 Februari 2019

Review nhw2

Ahaay, di pekan kedua di IIP saya belajar tentang ibu profesional yang menjadi  kebanggaan keluarga. Makin lama makin menarik aja nih ilmunya. Menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga tentu saja harus punya kriteria - kriteria khusus ya, punya indikator kesuksesan. Lalu apa saja sih kriteria dan indikatornya? Tentu saja perihal yang bisa membuat kita bahagia.

Nah, di NHW kali ini. Saya dapat tugas untuk membuat indikator penunjang kesuksesan seorang ibu profesional sebagai perempuan yang berperan sebagai dirinya sendiri, sebagai perempuan yang beperan sebagai istri, lalu sebagai perempuan yang berperan sebagai ibu.

Mudah ya kelihatannya, cuma bikin ceklist ceklist seperti itu. Sebab sebelumnya saya juga pernah menata diri saya yg random ini dengan target - target kesuksesan.

Namun tidak semudah itu Ferguso, hampir saja saya melewatkan NHW pekan ini saking sok sibuknya. Halaaah alasan. ๐Ÿคฃ

Namun akhirnya saya lolos juga mengerjakan tugas di detik - dikit terakhir injury time. ๐Ÿ˜‚

Tak perlu buat indikator yang perfect, idealis,  dan muluk - muluk sampe sundul langit. Tak perlu. Buatlah yang sekiranya mudah kita lakukan, yang bisa kita jangkau dan istiqomah untuk mengerjakannya. Contohnya, indikator perempuan sebagai individu:

“mengurangi aktivitas dengan gadget dirumah” bisa diganti dengan kalimat yang spesifik dan terukur menjadi “menetapkan gadget hours selama 2 jam setiap hari”.

“family time bersama keluarga dirumah”,nah kalau yang ini bisa diganti dengan “menyelenggarakan family forum (ngobrol santai) minimal satu jam sehari”. Sepertinya ini lebih bisa diterima ya.

Nowdays, disadari atau tidak dalam mendidik anak, kita sering terjebak pada aktivitas “Shallow Work” yaitu aktivitas dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan - gangguan) sehingga tidak menimbulkan perubahan besar dalam hidup ini. Dan tidak sedikit yang bosan dengan kehidupannya.

Sering kali kita melihat status - status di media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Puluhan notifikasi WA yang masuk kluntang klunting membuat kita sering terjebak dalam aktivitas “Shallow Work “. Kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tapi ternyata tidak menghasilkan apa - apa. Tidak menghasilkan sesuatu hal yang penting. Pun tidak membawa perubahan yang lebih baik pada diri.

Nah, ternyata semua ceklist - ceklist yang sudah kita buat itu bakalan tercapai jika kita konsisten dan komitmen untuk menjalankan. Dua kata yang haram ditinggalkan jika ingin kesuksesan. Istiqomah laah ya, jangan dikit - dikit ngeluh, dikit - dikit bosan, dan dikit - dikit ngambek. Eh. ๐Ÿ˜‚.

Untuk menjadi profesional kita butuh lebih fokus dalam meningkatkan kualitas diri. Meskipun tidak bisa dipungkiri, kita menggunakan sosial media FB,IG,Twitter sebagai media belajar, tapi wajib hukumnya kita mengubah aktivitas yang dulu termasuk kategori “Shallow Work” menjadi “Deep Work”. Yaitu aktivitas yang memerlukan fokus dan ketajama berfikir sehingga membawa perubahan besar dalam diri kita.

Ingak Ingak konsisten dan komitmen. Thinkkk

#nhw2#menjadi ibu profesional yang menjadi kebanggaan keluarga #IIPB7 #IP Jepara #2019 #review

Senin, 11 Februari 2019

Menjadi Ibu Profesional Kebanggan Keluarga


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Minggu – minggu ini rasanya saya sibuk sekali. Eh Sok sibuk apa sibuk ya. Ya beda – beda tipislah ya, haha.

Berbagai kegiatan luar pekan ini mulai menyerbu. Dari mulai menyiapkan murid Ujian Nasional, menjadi tutor pengajar maple ujian, panitia tryout, hingga menjadi pengurus dan ketua panitia dalam kegiatan lomba Porsema. Tugas dari sekolah yang sama sekali tidak bisa saya tinggalkan. Dan alhamdulillahnya lagi, bisnis rumah makan yang saya kelolapun begitu ramai dan banyak menerima orderan di awal bulan Februari ini. Hal ini semakin menyita waktu dan membuat saya kelihatan “sok sibuk”.

Jadilah kegiatan saya setiap hari seperti ini :  pagi siang di sekolah, pulang sekolah dari siang sampai sore saya melipir kantor kedua saya, (read : rumah makan) pun kadang hingga malam hari. Dan akhirnya membuat saya selalu kelelahan saat sampai dirumah.
Pekerjaan domestik, alhamdulillahnya tetap aman. Suami saya bisa diajak bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Namun hal ini tak sejalan dengan kuliah online saya. Tugas IIP hampir saja terabaikan. Sebenarnya tugas kali ini tak sulit – sulit amat, tapi kenapa saya lamban dalam mengerjakan NHW kali ini. (halaah alibi. Dasar memang malas saja saya minggu ini. hehe). Sampai pada akhirnya saya mengerjakan di detik – detik terakhir deadline NHW.

Dipekan kedua ini pemahasan di IIP menarik sekali lho. Di sini saya belajar untuk “Menjadi Ibu Profesional Kebanggan Keluarga”. Menarik bukan?. Setelah mendapatkan semua materi tentang apa itu ibu? Apa itu professional? dan dari semua materi yang sudah saya pelajari pekan ini, bahwa ibu professional adalah ibu yang bahagia dan bisa menjadi kebanggan keluarga. Tapi tidaklah semudah itu Ferguso. Untuk menjadi ibu professional dan membawa keluarga bahagia, adalah indikator – indikator yang harus saya capai.

Maka untuk mencapai keluruh kesuksesan menjadi ibu professional saya harus membuat indikatornya. Dan kenapa dari awal saya bilang tugas ini mudah? Ini semata karena saya biasa membuat ceklist seperti ini dalam mentarget keberhasilan yang ingin saya dapatkan. Dan memang dengan cara ini membantu banget dalam menjalani hidup. Untuk lebih lengkapnya berikut adalah tugas NHW yang harus saya kerjakan.

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat 

๐Ÿ“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”๐Ÿ“
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.
Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional/
Now saatnya saya merancang sendiri kesuksesan model bagaimana yang ingin keluarga saya dapatkan.

Sebagai Individu

Indikator
Deskripsi
Timebond
Salat wajib tepat waktu
Jika dalam keadaan free setelah mendengar panggilan adzan hendaknya menyegerakan kewajiban salat
Setiap hari
Salat dhuha
Salat dhuha sebagai ikhtiar suami khususnya dan keluarga umumnya, untuk mendapat tambahan rejeki yang halal dan barakah
2 rakaat minimal setiap pagi
Qiyamul Lail
Meniatkan dalam hati setiap malam untuk menunaikan salat tahajud/hajat
Seminggu minimal 3 kali
Nderes Alquran
Nderes alquran sebagai sarana untuk berkomunikasi kepda Allah dan menguatkan keyakinan kepada Tuhan.
Wajib setelah salat magrib meskipun satu atau dua ayat. Ditambah setelah subuh atau setelah tahajut lebih bagus.
Mengaji dan mendatangi kajian
Sebagai manusia yang terbatas ilmunya, hendaknya kita terus belajar, terlebih ilmu agama. Apalagi dijaman milenial seperti ini. Tidak punya guru ngaji/guru spiritual itu tidak jaman. Jadi setidaknya kita punya guru yang bisa kita tanya jika mendapat masalah dalam kehidupan.
Lanjutkan mengaji rutin setiap kamis malam dan Jumat malam.
Membaca buku
Ilmu agama itu penting, ilmu dunia juga tak kalah penting. Dan membaca adalah salah satu media kita belajar. Sebab jika kita ingin mengetahui dunia maka membacalah, dan jika kamu ingin diketahui dunia maka menulislah. Ingin tahu dunia? Ya membaca dongs
1 buku setiap bulan sudah bagus
Menulis
Seperti yang sudah saya katakana diatas bahwa jika kita ingin mengetahui dunia maka membacalah, dan jika kamu ingin diketahui dunia maka menulislah. Menulislah maka kau akan tetap hidup. Syukur – syukur bisa kirim artikel,esai, resensi atau puisi ke media. Alhamdulillah lagi kalau dapat honor. Mayan kan bisa buat beli bakso. Eh salah buat ditabung
1 artikel siap terbit sebulan sekali
Menulis diblog seminggu sekali
Olahraga
Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Nah olahraga untuk menjaga kewarasan jiwa.hehe
Lari atau senam minimal seminggu sekali
Menyantuni anak yatim
Bahwa sebagian rejeki kita adalah milik orang lain. Jadi sedekah adalah jalan yang baik untuk menyalurkan. Terlebih untuk anak yatim
Minimal setahun sekali setiap bulan Muhamram
Sebagai Istri

Indikator
Deskripsi
Timebond
Tidur Teratur
Saya termasuk orang yang suka tidur dan gampang terbangun. Jadi saya tidak punya waktu untuk tidur berkualitas
Setiap hari
Mengurangi aktivitas dengan gadget
Fomo adalah penyakit akut yang harus dihindari. Jika sudah terkena penyakit ini sangat menganggu. Sebab kita ini bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Ini juga bisa mengurangi quality time bersama keluarga.
FGOSS (free gadget on Saturday Sunday)
Menyambangi orang tua
Silatuharahim dengan orang tua dan saudara adalah memanjangkan umur.
Mengunjungi seminggu sekali bagi orang tua yang dekat, dan 4 kali dalam setahun minimal bagi orang tua yang jauh.
Melakukan perawatan diri
Merawat diri adalah hal yang penting untuk wanita. Apalagi bagi mereka yang susah berkeluarga. Tampil cantik di depan suami adalah kewajiban.
Me time melakukan perawatan diri seminggu sekali selama dua jam minimal.
Menabung
Nowdays,hampir semua dari kita lebih banyak yang hidup konsumtif dari apada prokuktif. Bagi perempuan khususnya ibu dan istri , kita harus pintar – pintar membelanjakan uang. Terlebih untuk uang amanat dari suami.
Menabung setiap hari sekali minimal 20K
Sebagai Ibu


INDIKATOR
DESKRIPSI
TIMEBOND
Membersamai anak selama masa golden age
Golden age adalah masa masa penting bagi anak dan bisa mempengaruhi kehidupan mereka dimasa mendatang. Maka sebagai orang tua wajib untuk mengawal proses tumbuh kembang mereka.
Setiap hari
Memberikan ASI eksklusif selama 2 tahun
ASI ekslusif adalah sumber asupan inti dan ajaib dari sang ibu. Hal ini bisa jadi mendekatkan batin antara ibu dan anak.
Setiap hari selama dua tahun
Mebacakan buku dan memberi bacaan yang bermanfaat
Jangan berharap anak bisa suka membaca jika tidak dibiasakan membaca atau dibacakan buku.
Setiap hari
Membuat DIY
Do it Your self. Selain hemat. DIY juga bikin kita kreatif.
Setiap kali melakukan aktivitas baru
Memberikan perhatian dan kasih sayang
Kasih sayang dan perhatian haruslah diberikan pada anak selalu. Seperti kata pepatah siapa menaman ia akan menuai. Begitu pula kasih sayang. Jika kita mengajarkan anak dan memberinya kasih sayang, insyaallah saat dewasa nanti mereka juga anak memberi kasih sayang pada orang tuanya.
Setiap hari
Memfasilitasi buku dan mainan edukatif
Salah satu nutrisi otak terpenting adalah buku. Apalagi dijaman digital ini. anak – anak cenderung lebih tertarik gadget daripada buku. Jadi jika ingin anak lepas dari gadget carilah trik ampuh yang lain. Salah satunya dengan memfasilitasi mereka buku. Pun diselingi dengan maina – mainan edukatif.
Sebulan dua kali

Hehe finally nhw kedua ini selesai. Semoga bisa konsisten untuk melaksanakan indikator – indikator diatas sana .
Salam hangat,

Selasa, 05 Februari 2019

Review NHw1

Pekan Pertama Dikelas matrikulasi.
Awalan, bingung mau nulis apa di aliran rasa. Lama lama ngalir aja, satu paragraf dua paragraf tiga dan paragraf. Eh lama lama jadi penuh sendiri sama curhatan. Hehe

Senang. Akhirnya bisa ngungkapin uneg2 tapi bisa sambil belajar dan gali ilmu.

Enaknya lagi, di IIP ini tidak ada tugas benar ataupun salah. Yang paling penting kita ngerjakan tugas tepat waktu.

Pekan pertama sungguh mengesankan. Saya dapat materi adab menuntut ilmu. Dimana kita belajar adab dulu sebelum belajar ilmu. Ilmu bisa dipelajari, sedangkan adab tidak bisa di ajarkan, hanya bisa ditularkan.

Diera digital seperti ini, kita tidak boleh terseret tsunami informasi. Sebagian besar dari kita menganggap semua ilmu itu penting. Sehingga lupa menentukan skala prioritas. Parahnya lagi jika kita terkena penyakit FOMO (fear og missing out). Yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit yang membuat penderitanya ingin selalu mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial.
Dan biasanya akan terkena penyakit lanjutannya yaitu NOMOFOBIA. Rasa takut yang berlebihan jika kehilangan atau ketinggalan informasi dari telpon pintar.

Maka hendaknya kita hanya fokus pada apa yg menjadi tujuan, tujuan hidup kita. Fokus pada jurusan, jurusan dari universitas kehidupan yang telah kita tentukan. Dalam universitas kebanyakan kita bisa salah jurusan. Namun di universitas kehidupan kita tak boleh lagi salah jurusan.

Alhamdulillah bisa menyelesaikan tugas perdana. Tepat waktu. Semoga bisa berkomitmen dan konsisten mengerjakan nice homework 8pekan kedepan.
#Nhw1

#adabmenuntutilmu

#yakinlulus

#review

Adab Dulu Baru Ilmu, Setuju?

Adab Dulu Baru Ilmu, Setuju?
Assalamualaikum warahmatuallahiwabarakatuh
Alhamdulillah, sudah hampir satu bulan saya belajar di Institut Ibu Profesional. Setelah lolos kelas Foundation dan Stadium Generale, tibalah saatnya saya memasuki kelas Matrikulasi. Dalam kelas matrikulasi ini kami di damping oleh satu fasilitator awesome dari IP Jakarta. Beliau adalah Siti Mumun Munawaroh. Kami akrab memanggilnya mbak Mumun.
Kelas Matrikulasi ini ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 Bulan. Dan kami akan belajar bersama mbak Mumun selama 9 pekan. Yang disetiap pekannya kami akan diberikan materi - materi menarik untuk bekal menjadi ibu yang professional. Tentu saya disetiap pekannya akan ada tugas dari fasilitator yang harus kami kerjakan dengan tepat waktu, tugas tersebut lebih sering kita sebut dengan NHW atau Nice Home Work. Untuk mencapai kelulusan, minimal 80% NHW harus kami kerjakan. Tentunya harus tepat waktu. Artinya kami harus mengerjakan 7 NHW dari 9 NHW yang diberikan. Mengerjakan seluruh tugas akan lebih baik. Doain saya bisa lancar mengerjakan semua tugas nya ya. NHW ini banyak ditakutkan oleh seluruh mahasiswa.
Kabarnya NHW ini bakalan susah. Iya susah, susah rasanya kalau kita hanya bermalas – malasan dan menunda mengerjakan NHW. Padahal menurut fasilitator NHW ini sangat mudah. Tidak ada ukuran standar untuk benar atau salah. Yang tahu itu benar atau salah adalah diri kita sendiri. Sudah sesuai dengan kondisi dan cita cita yang kita inginkan atau belum.
Kebetulan dikelas saya ada 47 mahasiswa. Teman – teman saya ini benar - benar jempolan. Dari hari pertama saat NNW ini diluncurkan sudah ada banyak mahasiswa yang menyelesaikan tugas. Masyaallah pada rajin - rajin teman saya ini. Setiap hari para mahasiswa absen dan menyatakan sudah selesai mengerjakan NHW. Dan ini adalah suntikan semangat dan kobaran api yang mereka sulutkan untuk kami, mahasiswa lain yang belum menyelesaikan NHW. Ya macam saya ini. hehe.
Alhamdulilah berkat mereka, saya jadi tambah semangat. Bergegas menyelesaikan NHW pertama ini. Sejatinya saya juga seperti teman – teman sudah semangat di hari pertama saat tugas diberikan. Mengerjakannya memang mudah dan cepat. Tapi niat untuk mengirimkanya yang membutuhkan waktu, butuh keteguhan hati yang kuat untuk berani submit in. Berusaha sebaik mungkin, sebagus mungkin dan idealis untuk menjadi yang terbaik. Setelah saya pikir ulang, sepertinya bukan itu yang di butuhkan di IIP. Tidak harus jadi yang paling baik. Tapi jadi terbaik menurut versi kita sendiri. Karena setiap orang itu unik, punya kelebihan dan kekurangan masing – masing. Jadi tidak harus sama dengan yang lain.
Pada pekan pertama ini, materi yang kami dapat adalah ADAB MENUNTUT ILMU. Materi yang menarik untuk awalan pembelajaran. Nah , inilah saatnya mbak Mumun memberikan tugas, dan tugasnya adalah,,,,,,,,
Jeng jeng jeng jeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng
*ADAB MENUNTUT ILMU*

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #7, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW. 

Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

Salam Ibu Profesional,

Baiklah setelah ocehan saya yang panjang diatas, saatnya serius. Serius menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diberikan.
  1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya merasa saya ingin menekuni semua jurusan yang ada di universitas kehidupan ini. Sebab saya merasa, diri saya ini masih kurang sekali ilmu – ilmu yang ada di dunia. Jujur saja. Sampai detik ini, hampir 29 tahun saya tinggal didunia. Saya belum bisa menemukan passion saya. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Saya merasa ambyar sekali. Belum ada jurusan yang cocok yang saya tekuni. Sebenarnya, bukan sebab saya tidak bisa atau tidak menguasai sama sekali keahlian yang ada. Akan tetapi, justru saya ini hampir bisa semua keahlian dari perempuan yang biasa mereka kuasai. Apa yang mereka (perempuan) bisa, insyaallah saya juga bisa. ( ini bukan maksud saya menyombongkan diri). Hehe. Akan tetapi, disinilah blunder yang saya alami. Sayang beribu sayang. Apa apa yang saya bisa tadi, kalau dinilai dalam standar score. Nilainya sama. Standar. Tidak ada yang tinggi dan tidak ada yang rendah. Hampir semua rata-rata. Saya belum menemukan apa kelebihan yang ada dalam diri saya. Padahal hampir semua saya bisa, seperti memasak, menjahit, bebikinan kerajinan tangan, bikin kue, mengajar, menulis hingga “dodolan” dan marketing sayapun bisa. Jadi disini yang membuat saya dilema. Saya belum menemukan keunggulan yang menjadi ciri unik dalam diri saya. Berharap melalui belajar di IIP ini saya bisa menemukan passion saya. Atau mungkin ada dari salah satu fasilitator atau alumni yang senasib seperti saya. Bisa sharing – sharing tips dan triknya untuk sukses menemukan passion dalam diri.
Terlepas dari itu semua jurusan di universitas dunia itu, ada satu jurusan yang ingin saya tekuni, yaitu ilmu “Management Hati”. Saya sering terjebak dalam situasi yang tidak enak. Sebab saya lebih mengandalkan hati dibanding “otak” atau logika disetiap masalah atau kejadian yang saya alami. Kalau kata suami saya, perempuan itu kebanyakan mikir, mikirnya lama, jadi lama sekali untuk melakukan tindakan atau perubahan. Dan itulah saya. Nah, disini saya ingin sekali menata hati, memanage untuk menjadi pribadi yang lebih tertib, teratur, tegas dan punya pendirian teguh. Saya belum lulus materi management hati tersebut.
Selain semua yang telah saya sebutkan diatas, management hati seperti iklas, sabar dan tabah juga ingin saya tekuni dan kuasai. Selama ini, saat dalam keadaan buruk, sering saya merasa ikhlas atas sajian yang Allah berikan pada saya. Meski mulut berkata ikhlas, tapi hati sering tidak menerima. Justru kadang berontak pada Allah. Pun saya ingin belajar tulus ikhlas berkesinambungan baik dimulut pun dihati. Sungguh saya ingin. Begitu pula dengan sabar dan tabah. Semoga dikelas matrikulasi ini, saya bisa belajar dan berhasil memanage hati saya.
  1. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Alasan terkuat, bicara soal alasan, alasan terkuat yang saya miliki untuk menekuni ilmu tersebut secara umum adalah saya ingin menjadi pribadi yang pandai memanusiakan manusia. Bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, bisa memposisikan diri jika berada diposisi orang lain. Dan lebih dari itu, alasan khusus saya adalah ingin menjadi ibu yang professional dalam menghadapi semua masalah yang timbul dalam keluarga. Seperti yang kita tahu bahawa disetiap keluarga pastilah tidak mungkin berada didalam koridor jalan yang lurus – lurus saja, pasti ada gelombang dan lubang yang harus dilalui. Nah saya ingin sekali membawa keluarga saya bisa lolos melewati gronjalan - gronjalan tersebut. Menjadi tempat yang dirindukan suami dan anak, menjadi tempat perpulang yang dinanti keluarga sehingga menciptakan kehidupan yang bahagia dan diharapkan keluarga.
  1. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Strategi? Hmmmmmm apa ya, mungkin saya bisa menempa diri saya untuk mengontrol diri. Menjaga hati. Berusaha sabar dan menerima. Terlebih dalam menjalani takdir yang telah ditetapkan kepada saya. Seperti kalau kata orang jawa bilang “ sak dermo ngelampahi”. Mengurangi rasa mengeluh dan lebih banyak bersyukur. Itulah strategi yang akan saya lalukan demi kesuksesan saya untuk meraih ilmu tersebut. Semoga saya bisa melakukan dan istiqamah menjalankan. Selain itu saya juga masih melanjutkan ngaji saya pada pak kyai, mendatangi orang – orang salih yang sering memberikan kenyamanan hati lewat cerita dan nasihat – nasihatnya. Mendatangi kajian – kajian keagamaan yang membahas tentang ilmu “rasa”. Jadi kita juga bisa lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan.
  1. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut
Berkenaan dengan hal ini. Sikap yang ingin saya perbaiki adalah mengurangi bicara untuk hal – hal yang kurang bermanfaat. Lebih tepatnya sedikit bicara banyak kerja. Sebab selama ini, selain banyak kerja. Saya juga banyak bicara. Dan mungkin jika saya bisa memanange tutur kata saya, hasil kerja saya akan lebih baik dari yang sebelumnya.
Selain itu, setelah mendapat penjelasan dari mbak Mumun dan diskusi dengan teman – teman, bahwa salah satu adab yang baik adalah menanamkan konsep one bite at a time. Ini ilmu baru bagi saya. Selama ini, karena saking maruknya, saya ingin menguasai semua disiplin ilmu. Saya terlalu tamak dalam membaca sebuah buku. Belum selesai buku satu, saya sudah bernafsu dengan buku yang lain, baru belajar keahlian satu, melihat ada keahlian baru saja juga ingin melakukan. Hingga akhirnya saya tidak totalitas dalam belajar, hanya setengah – setengah. Mungkin itulah yang menyebabkan saya belum menemukan passion selama ini. Saya sadar, ini tidak baik. Tapi saya belum bisa melebur sikap saya itu. Semoga dengan ini ada sebuah treatment atau terapi khusus agar saya bisa sukses belajar adab dulu, baru ilmu.
Alhamdulillah, selesai juga tugas NHW1 saya ini, meskipun dikerjakan lamban dari pada teman - teman semua. Semoga NHW ini bisa membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Oh ya, saya mengerjakan tugas ini dengan ditemani oleh suami saya saat bercengkrama tengah malam, dan tentunya lebih banyak guyonan nya dibanding ngerjainnya. Hehe. Terima kasih ya mas sudah menemani. Besok pekan depan lagi ya, masih ada 8 tugas lagi menanti.
Maaf ya mbak mumun kalau garing dan bahasanya kaku, habis spaneng mepet deadline,hehe semoga besok bisa bikin cerita yang kemriyuk, kriyuk kriyuk kayak krupuk.
Salam Hangat
ESTY CAHYANINGSIH


#IIPSALATIGA-JEPARA
#IIPBATCH7
#ADABMENUNTUTILMU
#YAKINLULUS